Thursday, May 07, 2009

Sebuah perjalanan


Sebuah perjalanan

Ketika kurang lebih 20 tahun yang lalu masa ketika anaku mulai masuk sekolah dari TK kemudian SD telah mulai tertanam kebanggaan kami dan ibu yang melahirkan anaku itu. Betapa tidak anaku yang ini sepertinya mempunyai IQ yang lebih baik dari kedua kakaknya, dari kenaikan kelas ke kenaikan kelas berikutnya anaku selalu dalam ranking 3 besar.
Disore hari dalam kelas Diniyah-nya juga menunjukan prestasi yang amat menggembirakan.
Begitupun ketika SMP kemudian berhasil memasuki SMA paling favorit di kotaku dia tetap konsisten dengan prestasi yang membaggakan.
Tapi siapa nyana anaku ini tergelincir ketika mau masuk perguruan tinggi, dia gagal diterima di ITB dan UGM yang menjadi pilihannya. Kami kedua orang tuanya merasakan betapa dia menderita shocked ketika teman-temannya yang lain telah didterima di beberapa PT dan anaku ini belum dapat tempat.
Pilihan berikutnya tentulah PTS atau PTN non gelar (D3), beruntung dia bisa diterima di D3 UGM waktu itu. Kami kembali merasakan kebanggaan yang tersisa, akan tetapi betapa terkejutnya kami setelah diketahui bahwa UGM telah menerapkan sistem mandiri dalam arti kata lain mandiri dalam menentukan tarip perkuliahan, alhasil SPP anaku ini diatas spp PTS.

Sebuah perjuangan yang tidak gampang sbg pegawai kecil dari perusahaan swasta, selama kurang lebih 3 tahun menanggung biaya kuliah 3 orang anak sekaligus.
Walau demikian, anakku berhasil menyelesaikan kuliahnya dalam waktu yang cukup singkat. Dan bersamaan dengan itu spt biasanya anak muda dia telah terpikat dengan teman seperkuliahannya hingga pada ikatan resmi dalam bentuk pertunangan.

Cukup lama perjalanan dan ikatan asmara keduanya, hingga suatu saat terjadi prahara ketidak cocokan keduanya dan anaku mengambil keputusan memilih teman hidup yang lain…
Tidak mudah bagi kami (kedua orang tua) menentukan pilihan keduanya hingga berjalanannya waktu hampir 2 tahun penantian.

Prahara yang tidak kami harapkan itu bertambah berat bagi kami termasuk anak kami tsb ketika mengetahui jerih payahnya selama ini berupa ijazahnya satu bendel sejak SD, SMP, SMA dan D3 hilang lenyap tanpa bekas.
Telah dicari dengan kepanikan semua kemungkinan penyimpanan tapi ijazah2 itu benar2 lenyap.
Harapan satu2nya adalah tinggal kebaikan hati dari seseorang yang mengurus segala keperluan anaku beberapa tahun ini, akan tetapi harapan ini menjadi harapan kosong ketika dia mengatakan “tidak tahu”.

• Ya Allah….. mungkin benar dia anaku telah berdosa menghianati cintanya, maka ampunilah anaku ya Allah
• Mungkin benar dia sakit hati, maka ampunilah kami ya Allah dan pertemukanlah dia dengan jodohnya yang lebih baik dari anaku itu.
• Mungkin benar dia tidak mengetahui dimana ijazah2 itu, ampunilah kami telah menganggap ia mengetahui dan tidak mau memberitahu kami.
• Mungkin benar dia mengetahui bahkan mungkin masih menyimpan ijazah2 itu dan tidak mau menyerahkan pada kami karena sakit hatinya, maka ampunilah dia ya Allah..

Ternyata kebanggaan sebesar apapun tidak akan ada artinya ketika Sang Maha menentukan Rabbul Izzati telah mencabutnya.

Subhanallah, astaghfirullah gal adzim, la hawalla kuwatta billahi

Klaten 5-mei-2009 ( tepat di ultah pernikahan )

No comments: