Yah media lain masih ada, “Bloger” walau saya tidak tahu bisa dibaca berapa banyak insan, yah tak apalah.
“tidaklah pantas orang2 musyrik memakmurkan masjid Allah, padahal mereka mengakui bahwa mereka sendiri adalah kafir”
Firman Allah ini sungguh mengusik hati saya, adakah orang musyrik yang mau memakmurkan masjid ? mari kita renungkan disekitar kita adakah masjid yang diramaikan dengan kemusyrikan ? ternyata banyak baik yang nyata2 musyrik seperti pemberhalaan benda2 seperti jimat, keris, lafal2 mantera yg dibuat dari huruf2 arab tidak jelas itu, bahkan ayat2 al quran yang dipotong-potong untuk kepentingan selain ibadah. Sewaktu masa kecil saya, sering kali oknum2 Kiyai yang dihormati ummat malah menjual jimat2 untuk tujuan2 tertentu yang tentu saja bukan “iyyaka nakbudu waiyyaka nastangin”
“sesungguhnya yang memakmurkan masjid Allah hanyalah orang2 mukmin….”
Sungguh menherankan orang2 yang mau memakmurkan masjid seperti ayat ini ( 9:18 ) sering mendapatkan penentangan yang amat keras, mulai dari pelarangan mengadakan kajian di masjid itu sampai pada pemboikotan bahkan ada yang samapai penganiayaan secafa fisik. Tuduhan mereka amat klasik dari sekedar anggapan “kaum wahabi” sampai pada tuduhan mengarah fitnah bahwa penegakan ayat ini dinilai sebagai upaya menghacurkan ummat Islam…. Aneh memang.
Wahai sahabat dan handai taulanku…. Mari kita berfikir jernih apakah mungkin seorang atau kelompok yang mau menegakan kalimat Allah ( al qur’an ) dikatakan sebagai upaya menghacurkan Islam ? hati nurani kita sebenarnya bisa menjawabnya. Bagi saya Al Qur’an adalah “hudallinnas” yaitu petunjuk bagi semua ummat manusia dan As-Sunnah adalah bagian kedua untuk menjelaskannya merupakai bagian yang tidak bisa dilepaskan dan tidak bisa dipesah2kan.
Adapun masih adanya tuduham2 miring, sepertinya inilah yang dimaksud dari ayat diatas bahwa mereka mengaku beriman padahal mereka adalah musyrik dan fasik.
Musyrik ialah orang yang menjadikan sesuatu selain Allah sebagai pujaan dan berhalanya. Berhala itu bukan hanya yang berwujud patung, batu atau benda mati lainnya, tapi juga bisa berwujud “nafsu kekuasaan atau kewibawaan” bisa juga berupa “keserakahan harta, jabatan, kursi kedudukan” dan bisa juga pada kepercayaan tahayyul seperti “percaya hari baik dan hari buruk” percaya pada perdukunan dll.
Adapun Fasik sebagaian ulama mengartikan bahwa mereka mengaku beriman percaya bahwa sesuatu itu baik tapi mereka mengingkarinya, dan mereka percaya bahwa sesuatu itu jelek/dosa tapi mereka tetap mencari dalih pembenaran untuk bisa tetap melakukannya.
Dilihat dari sifatnya maka jelas sifat “FASIK” lebih berbahaya dari sifat “munafik” karena :
- Orang munafik umumnya mengakui dan mengetahui yang mereka lakukan itu tidak baik/dosa, oleh karena boleh jadi suatu saat mereka sadar dan kembali bertaubat.
- Orang “Fasik” :
umumnya mencari pembenaran terhadap apa yang mereka lakukan dan oleh karenanya mereka menganggap benar walaupun sebenarnya itu merupakan suatu kesalahan.
Sering pula menganggap remeh dosa-dosa kecil, padahal jika dilakukan berulang-ulang akan menjadi besar.
- Oleh karenanya logika sederhana saya mengatakan orang yang Fasik akan lebih sulit untuk bertaubat kembali pada jalan yang benar.
Mau kembali pada jalan yang lurus ( sirotol mustaqim ) ? kembalilah pada Al Qur’an & As Sunnah bukan pada yang lain siapun kita, apapun golongan kita, apapun mazhab kita. Tinggalkan pengertian kita yang salah tentang “sirotol mustaqim” bahwa ia itu jalan yang lurus di akherat nanti… bukan.
Ambillah jalan lurus itu sekarang……. Sekali lagi sekarang…… sewaktu kita masih hidup ini. Ini pasti lebih aman, pasti lebih terjamin walaupun misalnya keyakinan sirotol mustaqim itu adanya diakhirat itu “benar” kita tetap tidak akan sesat dan tidak akan rugi…… semoga. Amin ya Robbal Alamin
No comments:
Post a Comment