Memilukan rakyat kecil, yang hidup sehari-hari pas-pasan dalam kepapaan harus menanggung akibat kecerobohan pengelolaan hutan di kaki gunung Argopuro sebelah selatan ini.
Saya tidak tahu pasti seberapa parah penggundulan hutan disini tapi yang pasti hutan itu sudah tak mampu lagi menahan arus air hujan yang turun terus menerus beberapa hari sebelumnya.
Saya jadi terkenang ‘tanah’ dimana awak ini dibesarkan, ya di kaki gunung Argopuro ini pula tapi dilereng sebelah timur di satu desa yang berketinggian sekitar 550m DPL.
Kira2 5km dari Argopuro ketimur ada anak gunung Argopuro yang oleh penduduk setempat diberi nama gunung ‘koong’ ( jw ijen=dewean ) ketinggiannya saya kira tidak lebih dari 800m DPL.
Nah di gunung koong inilah ketika aku SD, jika hari minggu tiba, aku dan teman2 sering balapan (berlomba) mendaki dan turun gunung secara cepat.
Gunung ini bagi anak2 di desaku telah menjadi sahabat bercanda, menjadi teman bermain. Ketika anak kota bisa bermain ‘kelereng’ kami mencari buah ‘kemiri’ yang banyak berserakan di gunung ini untuk kami jadikan kelereng.
Ketika kami merasa haus atau lapar, kami naik ke kaki gunung ini memetik buah “jambu, mangga, duwet, nangka, duku, sawo, manggis, mundhu, ksemek bahkan durian” yang tumbuh liar di sekeliling kaki gunung ini. Sungguh kami merasakan sebuah kemakmuran dan kebebasan negeri ini waktu itu.
Benar, ini bukan cerita dari negeri entah berantah, penduduk kampung kami tidak terlalu memikirkan ‘nilai ekonomis’ dari kekayaan alam ini sehingga siapapun bisa mengambil buah-buahan dimana saja karena hutan ini seolah-olah milik bersama.
Khewan2 liarpun masih begitu banyak dan terasa indah, beraneka spesies burung meramaikan suasana, macan, harimau, kijang, babi hutan, tikus, dan ular telah menjadi pemandangan yg biasa bagiku…. Indah dalam keseimbangan alam.
Pohon2 tua yang tingginya menjulang tinggi dan dirambati oleh tumbuhan rotan liar menahan laju sinar matahari menembus bumi, sehingga humus yang basah berair abadi rasanya.
Satu hal yang aku tidak paham waktu itu, banyaknya pohon kemiri yang diselingi beberapa pohon pinus tertata agak rapi hasil budidaya atau alami, entahlah. Yang aku ingat banyaknya ranting2 patah dan busuk terus melapuk menjadi media yang baik untuk tumbuh suburnya ‘jamur kuping’ & ‘jamur gajih’ yang menjadi sumber rezeki yang lain dari penduduk desa disekitar gunung ini.
Kini sudah hampir 30 tahunan saya tidak lagi pernah melihat gunung ini, yang pasti keadaan sudah tentu banyak berubah.
- Penduduk desa telah betambah berpuluh kali lipat
- Habitat hewani di gunung itu tentu juga sudah berubah
- Jalan-jalan didesa kami telah beraspal mulus, memungkinkan hutan dijamah dg mudah
- Sungai-sungai sayang sudah tercemar sampah dan airnya sudah tidak jernih lagi
- Air mata air telah dialirkan ke kota-kota, sementara rakyat didesa hanya kebagian bocorannya yang bahkan sering menjadi sumber perselisihan dg tetangga karena berebut air.
- Orang-2 kota termasuk para pejabatnya dengan mudah bisa menembus tepian desa kami
- Kini habitat lingkungan sudah tidak asri lagi
Kepedulian terhadap lingkungan menurun drastic, karena minimnya pembinaan pejabat
Pejabat lebih mementingkan pembangunan fisik ( jalan, bendungan, sekolah dll ) daripada pembangunan moral
Sementara ulama/tokoh masyarakat yang bermoral, sering diperdayai pejabat hanya untuk kepentingan politik sesaat….. tragis
Akibatnya bisa diduga, penggudulan hutan oleh oknum-2 yang serakah, dan diikuti oleh penjarahan secara ‘liar’ oleh penduduk desa yng sekedar ‘mempertahan hidup’ tapi karena berjalan terus-menerus dan berkelanjuatan maka kerusakan hutan terjadi lebih cepat dari perkiraan para ahli.
Ya Tuhan, desa Kemiri – Jember telah menerima akibat dari kerusakan hutan itu.
Semoga sdr2ku di desa sebelah timur Argopuro ini bisa mengambil pelajaran dari musibah ini.
Ya Allah, ya Robbi
Lindungi kami dan keluarga kami di desa ini dari tangan2 jahil yang hanya mau hasil hutan kami tapi tak mau menjaganya.
Bisakah keindahan hutan kembali seperti masa kecilku dulu ?
No comments:
Post a Comment