
ayah... dulu...
cita-ctamu amatlah sederhana
asal anakmu bisa bersekolah
cukuplah bagimu
tapi kau tak cukup kuat menanggung beban itu
bagi seorang petani kecil di daerah terpencil disana
disuatu desa di jawa-timur, yah timur timur sekali
memang tidak sendiri, satu desa itu hampir sama, sengsara
tak ada PDAM, tak ada PLN, tak ada Telepon
bahkan jalan yang setapak itu, berbatu dan becek
kalaupun engkau bersepeda, tapi hanya sebagian kau bisa naiki
selebihnya sepeda itu - kau tuntun
kini....
anak-anak cucumu, berhamburan dinegeri ini
di solo, surabaya, bontang, kupang dll....
sukseskah cita-citamu wahai ayahku ?
aku yakin engkau tak pernah tahu anak dan cucumu sekarang
engkau puas hanya dengan sepeda, kini siapa nyana
anak cucumu dg fasilitasnya, dengan mudah di transportasi
yang paling mahal sekalipun.... terbang
aku anakmu, telah menikmati buah perjuangmu
aku telah melalang buana di negeri ini
duh.... ayah, perjuanganmu melebihi kemampuan anak cucumu
kini kau terbaring lemah diatas tempat tidurmu....
penglihatanmu telah sekianlama dicabut yg maha melihat
katarak telah membutakan mata, tapi hatimu tetap bersinar
melalui mata-mata anak cucumu.....
aku sebenarnya ingin menyambangimu paling tidak tiap minggu
seperti engkau dulu mengirimi aku sekarung beras ketempat kostku
terseok-seok, ter-engah2 mengayuh speda bututmu
tapi... jarak aku dan kau begitu jauh sekarang....
aku tak mampu membalas kebaikanmu wahai ayah..
aku tak mampu
aku tak mampu, yang kumampu hanya - menangis sedih
semoga engkau tabah, dan jika Allah memanggilmu nanti...
"khusnul khotimah" harapan anak-cucumu
No comments:
Post a Comment